Somalia Dilanda Gejolak Baru, Sengketa Kekuasaan Berujung Bentrokan Bersenjata

SUM41JKTSomalia kembali menghadapi gejolak politik yang berujung pada bentrokan bersenjata di ibu kota Mogadishu. Ketegangan antara pemerintah dan kelompok oposisi meningkat tajam setelah muncul perselisihan terkait masa jabatan Presiden Hassan Sheikh Mohamud dan perubahan konstitusi yang memicu perdebatan di berbagai kalangan politik. Dalam beberapa hari terakhir, bentrokan antara pasukan pemerintah dan milisi yang berafiliasi dengan oposisi menyebabkan kepanikan warga serta memaksa sejumlah keluarga meninggalkan rumah mereka demi mencari tempat yang lebih aman.

Peristiwa ini menjadi ujian baru bagi stabilitas Somalia yang selama beberapa dekade terakhir terus berjuang keluar dari konflik berkepanjangan. Selain menghadapi ancaman kelompok ekstremis Al-Shabaab, pemerintah Somalia kini harus menghadapi tekanan politik internal yang berpotensi memperburuk situasi keamanan nasional.

Akar Konflik: Sengketa Masa Jabatan dan Konstitusi

Ketegangan politik bermula ketika parlemen Somalia pada Maret lalu menyetujui perubahan konstitusi yang memungkinkan perpanjangan masa jabatan presiden selama satu tahun sekaligus menunda pelaksanaan pemilu. Keputusan tersebut menuai kritik keras dari sejumlah tokoh oposisi yang menilai langkah itu tidak sesuai dengan prinsip demokrasi dan berpotensi memperpanjang krisis politik di negara tersebut.

Kelompok oposisi menuduh pemerintah melakukan perubahan aturan secara sepihak tanpa mencapai konsensus nasional. Mereka juga menilai perpanjangan masa jabatan presiden dapat menciptakan preseden buruk bagi proses demokrasi Somalia yang masih rapuh. Sebaliknya, pemerintah berpendapat bahwa perubahan tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas negara dan memastikan transisi politik berjalan dengan aman.

Bentrokan Pecah Menjelang Demonstrasi Oposisi

Situasi memanas ketika kelompok oposisi berencana menggelar demonstrasi besar-besaran di Mogadishu sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah. Menjelang aksi tersebut, bentrokan bersenjata pecah antara pasukan keamanan dan milisi yang diduga berafiliasi dengan sejumlah tokoh oposisi. Warga melaporkan terdengarnya suara tembakan senjata berat dan ledakan di beberapa distrik ibu kota sepanjang malam.

Mantan Presiden Sharif Sheikh Ahmed menuduh aparat keamanan menyerang kediamannya dan mengecam perubahan konstitusi yang dianggap tidak sah. Sementara itu, mantan Perdana Menteri Hassan Ali Khaire menuding pemerintah menggunakan persenjataan berat di kawasan padat penduduk. Pemerintah membantah tuduhan tersebut dan justru menyalahkan kelompok oposisi karena membawa milisi bersenjata ke wilayah permukiman warga.

Dampak Terhadap Warga Sipil

Seperti banyak konflik lainnya di Somalia, warga sipil kembali menjadi pihak yang paling terdampak. Sejumlah keluarga terpaksa mengungsi sementara akibat kekhawatiran terhadap eskalasi kekerasan. Beberapa bangunan dan kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan akibat baku tembak yang terjadi di kawasan perkotaan.

Lembaga internasional telah lama memperingatkan bahwa konflik politik yang berujung pada kekerasan dapat memperparah kondisi kemanusiaan di Somalia. Negara di Tanduk Afrika tersebut masih menghadapi berbagai tantangan mulai dari kemiskinan, kekeringan, hingga ancaman kelaparan yang memengaruhi jutaan penduduk.

Menurut Program Pangan Dunia (WFP), sekitar 6,5 juta warga Somalia diperkirakan menghadapi kerawanan pangan serius sepanjang 2026. Situasi keamanan yang memburuk berpotensi menghambat distribusi bantuan kemanusiaan dan memperbesar risiko krisis sosial di berbagai wilayah.

Upaya Mediasi dan Seruan Internasional

Setelah bentrokan berlangsung selama beberapa jam, para tetua adat dan tokoh masyarakat dilaporkan melakukan mediasi untuk meredakan ketegangan. Upaya tersebut berhasil menghentikan pertempuran terbuka, meskipun situasi politik masih jauh dari kata stabil.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Afrika, dan sejumlah negara mitra Somalia menyerukan agar seluruh pihak menahan diri serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog politik. Komunitas internasional menilai bahwa konfrontasi bersenjata hanya akan memperburuk kondisi keamanan dan menghambat upaya pembangunan yang tengah dilakukan pemerintah Somalia.

Ancaman Terhadap Stabilitas Nasional

Krisis politik terbaru ini muncul ketika Somalia masih menghadapi berbagai tantangan keamanan lain. Pemerintah terus menjalankan operasi militer melawan kelompok Al-Shabaab yang selama hampir dua dekade menjadi ancaman utama bagi stabilitas negara. Di sisi lain, hubungan antara pemerintah pusat dan sejumlah wilayah federal juga kerap diwarnai ketegangan terkait pembagian kekuasaan dan proses pemilu.

Pengamat menilai konflik politik yang tidak segera diselesaikan dapat memberikan ruang bagi kelompok bersenjata untuk memanfaatkan situasi. Ketidakpastian politik juga berpotensi mengurangi kepercayaan investor dan memperlambat proses pembangunan ekonomi yang sangat dibutuhkan masyarakat Somalia.

Masa Depan Politik Somalia di Persimpangan

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Somalia berada di titik krusial dalam perjalanan politiknya. Ketika masa jabatan presiden dan parlemen telah menjadi sumber perdebatan, kebutuhan akan kesepakatan nasional menjadi semakin mendesak. Tanpa kompromi politik yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, risiko terjadinya konflik yang lebih luas tetap membayangi negara tersebut.

Bagi masyarakat Somalia, harapan terbesar saat ini adalah terciptanya stabilitas yang memungkinkan negara fokus pada pembangunan dan pemulihan ekonomi. Namun, selama sengketa kekuasaan masih berlangsung dan kepercayaan antaraktor politik belum pulih, Somalia berpotensi terus menghadapi gejolak yang menghambat upaya menuju perdamaian jangka panjang.

Jalan Panjang Somalia Menuju Stabilitas Politik

Gejolak politik yang kembali mengguncang Somalia menunjukkan bahwa tantangan terbesar negara tersebut bukan hanya menghadapi ancaman kelompok bersenjata, tetapi juga membangun kesepahaman di antara para pemimpin politiknya. Sengketa terkait kekuasaan dan perubahan aturan pemerintahan telah memicu ketegangan yang berujung pada bentrokan bersenjata, sekaligus menambah beban bagi masyarakat yang selama ini hidup di tengah ketidakpastian.

Di tengah berbagai upaya pemulihan keamanan dan pembangunan ekonomi, Somalia kini berada pada persimpangan penting. Dialog yang inklusif, penghormatan terhadap proses demokrasi, serta komitmen seluruh pihak untuk mengutamakan kepentingan nasional menjadi kunci dalam mencegah krisis yang lebih besar. Masa depan Somalia akan sangat ditentukan oleh kemampuan para pemangku kepentingan untuk mengubah konflik politik menjadi momentum rekonsiliasi demi mewujudkan stabilitas dan perdamaian yang berkelanjutan.