Ali Larijani dalam serangan udara pada pertengahan Maret 2026 langsung mengguncang pusat kekuasaan Iran. Bukan hanya karena ia memegang posisi strategis di bidang keamanan, tetapi juga karena selama bertahun-tahun Ali Larijani dikenal sebagai figur yang mampu menjahit hubungan antara elite politik, kalangan ulama, dan unsur militer di dalam Republik Islam. Reuters menggambarkannya sebagai salah satu operator politik paling berpengaruh di Iran, seorang powerbroker yang punya legitimasi politik sekaligus kedekatan dengan lingkaran religius.
Dalam situasi perang yang masih memanas, pertanyaan tentang siapa yang bisa mengisi ruang yang ditinggalkan Ali Larijani menjadi sangat penting. Namun sampai Kamis, 19 Maret 2026, belum ada pengumuman resmi dari Iran yang menetapkan satu sosok sebagai pengganti penuh Ali Larijani dalam arti politik yang utuh. Justru yang terlihat adalah menguatnya dua nama dari dua kutub berbeda, yaitu Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf yang menonjol dari sisi politik-militer, serta Ayatollah Ali Reza Arafi yang kuat dari sisi legitimasi keagamaan dan posisi kelembagaan. Ini membuat perebutan pengaruh pasca- Ali Larijani tidak sederhana, karena yang dipertaruhkan bukan hanya kursi, melainkan arah cara Iran mengelola kekuasaan di tengah krisis.
Ali Larijani selama ini sulit digantikan karena kekuatannya tidak berasal dari satu jabatan formal saja. Ia pernah menjadi komandan Garda Revolusi pada masa perang Iran-Irak, pernah memimpin parlemen, menjadi negosiator nuklir, dan akhirnya kembali sangat berpengaruh di bidang keamanan nasional. Kombinasi pengalaman inilah yang membuat ia bisa berbicara dengan bahasa kekuasaan yang lengkap: bahasa militer, bahasa birokrasi, bahasa diplomasi, dan bahasa elite agama. Reuters menilai kematiannya mempersempit pilihan Iran, terutama karena rezim kini kehilangan figur yang mampu menyeimbangkan kebutuhan perang dengan kemampuan menjaga koherensi negara.
Di tengah kondisi seperti itu, dua nama yang menguat menjadi relevan dibaca bukan sebagai “pengganti resmi” dalam arti sederhana, melainkan sebagai dua figur yang berpotensi mengisi sebagian peran besar Ali Larijani. Qalibaf terlihat menguat karena punya koneksi kuat dengan militer dan pengalaman politik yang panjang. Sementara Arafi mendapatkan perhatian karena berada di jantung lembaga keagamaan dan ikut masuk dalam struktur pemerintahan transisi Iran setelah gelombang serangan besar terhadap elite puncak negara itu. Dari sinilah arah politik Iran benar-benar menjadi taruhan: apakah rezim akan bergerak lebih keras ke poros keamanan, atau tetap berusaha menjaga keseimbangan simbolik antara negara dan legitimasi agama.
Kematian Ali Larijani Bukan Sekadar Kehilangan Tokoh Senior, tetapi Pukulan Besar bagi Mesin Pengambilan Keputusan Iran
Ali Larijani bukan tokoh biasa dalam sistem politik Iran. Selama puluhan tahun, ia berada di titik persimpangan antara berbagai pusat kekuasaan yang sering berjalan dengan logika berbeda. Ia punya latar keluarga ulama yang kuat, pengalaman politik yang panjang, dan hubungan dengan aparat keamanan yang membuatnya diterima di banyak lapisan elite. Itulah sebabnya, ketika ia tewas, yang hilang bukan hanya seorang pejabat senior, tetapi juga salah satu mekanisme penyeimbang paling penting dalam sistem Republik Islam. Reuters menyebut Ali Larijani sebagai figur yang memadukan legitimasi religius dan politik, sesuatu yang makin langka di tengah Iran yang kini semakin terdorong ke arah dominasi militer.
Penting dipahami bahwa rezim Iran tidak bekerja seperti pemerintahan yang sepenuhnya terpusat di satu kantor. Ada pemimpin tertinggi, presiden, parlemen, Garda Revolusi, Dewan Garda, Assembly of Experts, dan berbagai simpul pengaruh lain. Dalam sistem yang sangat berlapis seperti itu, sosok seperti Ali Larijani berfungsi sebagai penghubung yang memungkinkan keputusan strategis tetap terkoordinasi. Reuters mencatat bahwa setelah kematian sejumlah tokoh kunci, termasuk Ali Larijani, kemampuan Iran untuk menyeimbangkan kebutuhan di medan perang dengan kemampuan mengelola negara menjadi semakin tertekan.
Inilah yang membuat pembahasan soal pengganti Ali Larijani menjadi jauh lebih besar daripada sekadar nama. Yang sedang dicari rezim bukan hanya pejabat yang bisa duduk di ruang rapat, tetapi figur yang punya kemampuan mengendalikan arus faksi, menjaga kestabilan lembaga, dan memberi arah pada kekuasaan saat negara sedang mengalami tekanan terberatnya. Dalam rezim yang sedang kehilangan beberapa elite kunci sekaligus, kemampuan seperti ini menjadi sangat mahal.
ali Larijani berperan sebagai jembatan antara militer, politik, dan ulama
Salah satu kekuatan utama Ali Larijani adalah kemampuannya menjembatani tiga dunia penting di Iran: dunia keamanan, dunia politik formal, dan dunia ulama. Tidak banyak tokoh yang benar-benar dipercaya di ketiganya sekaligus. Karena itu, wafatnya Ali Larijani membuat keseimbangan internal Iran menjadi lebih rapuh.
rezim kehilangan figur yang paham bahasa kompromi
Dalam masa perang, rezim tidak cukup hanya memiliki figur keras. Ia juga membutuhkan sosok yang mampu menjaga agar mesin negara tetap berjalan tanpa pecah oleh konflik internal. Reuters menekankan bahwa kematian Ali Larijani membuat pilihan Iran menyusut, karena sedikit sekali tokoh yang punya bobot serupa untuk memainkan peran kompromi seperti dirinya.
Mohammad Baqer Qalibaf Menguat sebagai Figur Politik-Militer yang Dinilai Paling Siap Mengisi Kekosongan Strategis
Di antara berbagai nama yang beredar, Reuters secara paling jelas menyorot Mohammad Baqer Qalibaf sebagai sosok yang sedang menguat. Ketua Parlemen Iran itu disebut sedang muncul sebagai figur sentral pada saat pilihan rezim makin menyempit. Ini bukan hal yang mengejutkan, mengingat Qalibaf sudah lama berada di sekitar pusat kekuasaan Iran dan memiliki latar belakang yang sangat cocok untuk situasi darurat: ia pernah menjadi komandan di Garda Revolusi, memimpin angkatan udara IRGC, menjadi wali kota Teheran, lalu memimpin parlemen. Perpaduan ini menjadikannya salah satu elite yang paling lengkap di sisi politik dan keamanan.
Dalam situasi perang, figur seperti Qalibaf punya keunggulan jelas. Iran membutuhkan sosok yang paham logika keamanan, tetapi juga tahu bagaimana bekerja di arena politik sipil. Ia tidak datang sebagai tokoh pinggiran yang baru diuji, melainkan sebagai elite lama yang sudah berkali-kali bertahan dalam sistem yang keras dan penuh kompetisi. Daya tahan seperti ini sangat penting, karena dalam politik Iran, yang bertahan lama biasanya bukan hanya pintar, tetapi juga punya jaringan kuat dan kemampuan membaca arah kekuasaan.
Namun, kekuatan Qalibaf justru sekaligus menunjukkan batasnya. Reuters menulis bahwa ia tidak memiliki kredensial keulamaan yang dulu dimiliki Larijani. Ini berarti Qalibaf mungkin sangat kuat dalam koordinasi politik-militer, tetapi belum tentu bisa menggantikan seluruh bobot simbolik dan peran pemersatu yang dulu dijalankan Larijani. Dalam bahasa sederhana, Qalibaf bisa sangat efektif sebagai operator kekuasaan, tetapi ia masih membutuhkan legitimasi tambahan agar bisa diterima lebih luas oleh semua simpul rezim.
kekuatan Qalibaf terletak pada pengalaman dan jaringan negara-keamanan
Latar belakangnya di IRGC dan pengalaman panjang di jabatan sipil membuat Qalibaf menjadi figur yang sangat relevan ketika rezim membutuhkan koordinasi cepat di tengah perang. Ia membawa bahasa ketegasan yang dibutuhkan negara saat sedang berada di bawah tekanan besar.
kekurangan Qalibaf ada pada legitimasi religius
Di sistem Iran, kekuasaan tidak sepenuhnya ditentukan oleh jabatan formal atau kedekatan dengan militer. Legitimasi keagamaan tetap penting. Karena itu, kelemahan terbesar Qalibaf adalah ia tidak membawa bobot ulama seperti Larijani, sehingga ruang geraknya tetap memerlukan penyangga dari figur lain.
Ali Reza Arafi Dinilai Menguat karena Membawa Legitimasi Ulama dan Posisi Kelembagaan yang Sulit Diabaikan
Jika Qalibaf menguat dari sisi militer-politik, maka nama kedua yang relevan dibaca sebagai pengganti pengaruh Larijani adalah Ayatollah Ali Reza Arafi. Associated Press melaporkan Arafi menjadi salah satu figur penting dalam struktur pemerintahan sementara Iran setelah gelombang serangan terhadap elite puncak negara itu. Ia disebut berada dalam dewan pemerintahan sementara bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei. Selain itu, Arafi juga memiliki posisi penting di Guardian Council, Assembly of Experts, dan memimpin jaringan seminari keagamaan.
Mengapa Arafi penting? Karena salah satu kekosongan paling nyata setelah kematian Ali Larijani adalah hilangnya unsur legitimasi keulamaan dalam pusat pengambilan keputusan. Larijani dulu kuat karena ia bukan sekadar politisi, tetapi juga datang dari keluarga ulama berpengaruh. Reuters menekankan bahwa inilah salah satu keunggulan Larijani yang tidak dimiliki Qalibaf. Dari situ, Arafi menjadi relevan karena ia membawa apa yang tidak dibawa Qalibaf: otoritas agama dan pijakan yang kuat di lembaga-lembaga inti Republik Islam.
Arafi memang tidak identik dengan Ali Larijani dalam hal keluwesan politik atau bobot jaringan keamanan. Namun dalam rezim seperti Iran, legitimasi agama bukan unsur tambahan, melainkan fondasi. Saat negara berada dalam tekanan perang, figur seperti Arafi penting untuk memastikan bahwa sistem masih terlihat sah, teratur, dan tidak sepenuhnya digerakkan oleh logika militer. Kehadiran tokoh seperti Arafi juga membantu rezim membungkus keputusan-keputusan keras dengan payung simbolik yang lebih kuat di mata basis internalnya.
arafi punya pijakan kuat di lembaga inti Republik Islam
Guardian Council, Assembly of Experts, dan jaringan seminari bukan lembaga kecil. Ketiganya adalah pusat dari legitimasi keagamaan dan pengawasan ideologis di Iran. Posisi Arafi di sana membuatnya lebih dari sekadar ulama senior; ia adalah bagian dari mesin legitimasi rezim.
arafi menguat karena dianggap bisa menjaga stabilitas simbolik rezim
Di tengah perang dan kematian beberapa tokoh puncak, rezim Iran tidak hanya perlu bertahan secara militer. Ia juga perlu tetap tampak sah dan terkendali. Sosok seperti Arafi membantu menjaga citra bahwa negara masih berjalan melalui lembaga dan otoritas agama, bukan hanya melalui keadaan darurat keamanan.
Perebutan Pengaruh Pasca- Ali Larijani Bisa Menentukan Apakah Iran Makin Keras atau Tetap Menjaga Keseimbangan Kekuasaan
Pertanyaan terbesar setelah Ali Larijani wafat bukan sekadar siapa nama yang akan naik, melainkan ke mana arah politik Iran akan bergerak. Reuters melaporkan bahwa Garda Revolusi sudah semakin memperketat cengkeramannya atas pengambilan keputusan. Jika figur seperti Qalibaf yang lebih dominan, ada kemungkinan Iran bergerak ke pola kekuasaan yang makin tersentral pada poros keamanan dan semakin sempit dalam ruang kompromi politiknya. Dalam jangka pendek, pola seperti ini bisa terlihat efektif untuk survival rezim. Namun dalam jangka lebih panjang, ia juga bisa membuat Iran lebih kaku dan lebih sulit menyeimbangkan tekanan internal dengan diplomasi eksternal.
Sebaliknya, jika unsur seperti Arafi ikut menguat, rezim punya peluang lebih besar untuk menjaga lapisan legitimasi religius dan kelembagaan. Ini tidak berarti Iran menjadi lebih lunak, tetapi setidaknya memberi sinyal bahwa negara masih berusaha menjaga keseimbangan antara aparat keamanan dan institusi ideologisnya. Dalam sistem Iran, simbol seperti ini penting. Rezim tidak hanya hidup dari kekuatan keras, tetapi juga dari kemampuannya menampilkan diri sebagai sistem yang sah, religius, dan teratur.
Dengan kata lain, dua nama yang menguat ini mewakili dua kebutuhan utama rezim. Qalibaf mewakili kebutuhan akan koordinasi, ketegasan, dan daya tahan politik-militer. Arafi mewakili kebutuhan akan legitimasi, stabilitas simbolik, dan kesinambungan kelembagaan. Iran saat ini kemungkinan besar membutuhkan keduanya, tetapi pertanyaan terbesarnya adalah siapa yang akan lebih dominan dalam membentuk arah keputusan negara ke depan.
jika Qalibaf dominan, poros keamanan bisa makin kuat
Dominasi figur berlatar belakang IRGC cenderung mendorong negara bergerak lebih cepat dan lebih keras. Dalam situasi perang, ini mungkin dianggap perlu. Namun kecenderungan itu juga berpotensi mempersempit fleksibilitas politik Iran.
jika Arafi ikut menentukan, rezim bisa lebih menjaga wajah kelembagaannya
Kehadiran figur religius yang kuat dapat menahan rezim agar tidak tampak sepenuhnya dipimpin oleh logika militer. Ini penting bagi Iran yang sejak awal dibangun di atas perpaduan kekuasaan agama dan negara.
Yang Sedang Dipertaruhkan Bukan Hanya Nama Pengganti, tetapi Masa Depan Cara Iran Mengelola Krisis dan Kekuasaan
Pada akhirnya, pembahasan tentang dua nama pengganti Ali Larijani tidak bisa dibaca secara sempit. Ini bukan sekadar soal siapa yang akan paling sering muncul dalam rapat elite atau siapa yang duduk paling dekat ke pusat kuasa. Yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan adalah bagaimana Iran akan mengelola dirinya sendiri setelah kehilangan salah satu operator politik paling penting di saat perang sedang berlangsung. Reuters menunjukkan bahwa kematian Larijani datang pada saat rezim juga sudah kehilangan sejumlah tokoh kunci lain, sehingga persoalannya sekarang bukan hanya suksesi individu, tetapi penyusunan ulang mesin kekuasaan secara keseluruhan.
Sampai 19 Maret 2026, belum ada keputusan resmi yang menetapkan satu figur tunggal sebagai pengganti Ali Larijani. Namun dari berbagai laporan yang ada, dua nama memang paling layak dipantau: Mohammad Baqer Qalibaf dan Ali Reza Arafi. Yang satu membawa jaringan politik-militer dan pengalaman operasional yang kuat. Yang satu lagi membawa legitimasi agama dan pijakan kelembagaan yang dalam. Bisa jadi, pengaruh Larijani ke depan tidak diwarisi sepenuhnya oleh satu orang, tetapi terbagi di antara dua poros itu.
Bagi publik internasional, perkembangan ini penting karena Iran bukan sedang menjalani pergantian elite dalam situasi normal. Negara itu sedang berada di tengah perang, kehilangan sejumlah tokoh puncak, dan menghadapi tekanan besar dari luar maupun dari dalam. Karena itu, siapa yang menguat setelah Ali Larijani akan sangat memengaruhi nada politik Iran dalam waktu dekat, termasuk cara negara itu merespons perang, mengelola faksi internal, dan mempertahankan legitimasi rezim di mata pendukungnya sendiri. Itulah mengapa dua nama yang menguat ini tidak hanya penting bagi Tehran, tetapi juga bagi kawasan. Dan dari titik inilah, arah politik Iran benar-benar menjadi taruhan.
